Pages

Sabtu, 31 Januari 2015

Artikel Perang Dingin

         
            Perang Dunia II dimenangkan oleh Sekutu setelah mengalahkan pasukan Nazi dari Jerman. Namun keberhasilan tentara Sekutu menang pada Perang Dunia II justru menimbulkan babak baru, yaitu terjadinya Perang Dingin yang terjadi pada tahun 1947-1991, pemeran utama dalam peperangan kali ini yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Sekutu merasa kemenangannya tidak terlepas dari bantuan kedua negara tersebut. Amerika Serikat dengan segala bantuan tentara, perlengkapan, dan persenjaataan, pun saat pascaperang Amerika juga turut membantu perekonomian Eropa Barat hingga dapat bangun kembali. Pun demikian dengan Uni Soviet, dia melakukan pembebasan atas Eropa Timur dari tangan Jerman.
Istilah Perang Dingin sendiri pertama kali George Orwell, seorang penulis sekaligus jurnalis, yang menulis sebuah esai dan diberi judul “You and the Atomic Bomb”, yang saat itu ditulis pada akhir Perang Dunia II tepatnya pada pada Oktober 1945 dan dalam situasi perang nuklir seolah sebagai momok yang menakutkan dunia. Walter Lippmann, seorang kolumnis, juga menjabarkan secara detail mengenai Perang Dingin dalam bukunya yang berjudul The Cold War.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet  terjadi sebagai akibat konflik ideologi antara Blok Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat dan Blok Timur yang dipimpin oleh Uni Soviet. Persaingan kepentingan mereka sangatlah menonjol, yakni terkait ideologi negara masing-masing. Amerika Serikat dengan ideologi kapital-liberalis, sedangkan Uni Soviet dengan ideologi sosial-komunis. Perluasan ideologi ini dirasa oleh kedua kubu tersebut sangat penting, karena untuk mendapatkan dukungan dari negara lain.
Nampaknya, perluasan ideologi yang dilakukan oleh Uni Soviet mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Banyak negara yang berhasil di-komunis-kan olehnya. Menyikapi hal ini, Blok Barat mendirikan pakta pertahanan yang dikenal dengan istilah NATO (North Atlantic Treaty Organization) atau Organisasi Pertahanan Atlantik Utara. Berang dengan kelakuan Blok Barat, akhirnya Uni Soviet mendirikan pakta tandingan yang diberi nama Pakta Warsawa. Namun hal ini justru menjadi pemicu terjadinya Perang Dingin karena faktor ketidakpercayaan dan kecurigaan terhadap pihak lain.
            Selama Perang Dingin berlangsung, kedua kubu tidak pernah terlihat dalam aksi militer secara langsung, tetapi Amerika Serikat dan Uni Soviet selalu berada di barisan negara-negara yang sedang bersengketa. Mereka men-support negara yang bersengketa tersebut ditandai dengan gencarnya bantuan yang diberikan kepada negara bersengketa, berupa persenjataan, bahkan hingga memenuhi kebutuhan hidup masyarakat di negara bersengketa tersebut, tujuannya apalagi kalau bukan untuk menarik simpati mereka kepada salah satu negara, dan akhirnya bergabung dalam koalisi yang telah mereka bentuk.
            Ada beberapa langkah sebagai usaha untuk meredakan konflik yang berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Usaha tersebut diantaranya : 1) Usaha kedua negara adidaya, yakni upaya untuk meredakan Perang Dingin dengan mengurangi, membatasi, dan memusnahkan senjata nuklir dalam kurun waktu tahun 1962-1982; 2) Usaha antarnegara, masing-masing negara secara individu mulai mengurangi ketegangan yang terjadi, termasuk dengan saling mengunjungi untuk melakukan pendekatan; 3) Usaha negara berkembang, sebagai negara muda yang baru lahir setelah terjadinya peristiwa Perang Dunia II, negara-negara berkembang berusaha untuk bersikap netral, bukannya memihak pada salah satu kubu, dengan membentuk Gerakan Non-Blok (GNB); 4) Usaha PBB, PBB berusaha mengendalikan keamanan dunia dengan meminta kepada kedua pihak (Amerika Serikat dan Uni Soviet) untuk membantu negara-negara nonnuklir yang terkena imbas dari perang nuklir yang telah mereka ciptakan.
            Namun pada tahun 1980-an, Amerika melancarkan tekanan diplomatik, militer, dan ekonomi kepada Uni Soviet yang saat itu sedang ada masalah berupa perekonomian yang stagnan. Ditambah lagi dengan kebijakan yang diambil oleh presiden baru Uni Soviet yaitu Mikhail Gorbachev, berupa kebijakan reformasi liberalisasi perestroika yang menjadi pemicu keruntuhan Uni Soviet pada 1991. Uni Soviet kalah, sehingga menyisakan Amerika Serikat sebagai satu-satunya negara adikuasa dengan kekuatan militer yang dominan.
            Jika ada suatu peristiwa, maka tidak ketinggalan pula dampak yang ditinggalkan dari peristiwa tersebut. Begitu halnya dengan Perang Dingin. Setelah peristiwa itu usai, dampak yang ditinggalkan pun beragam, mulai dari dampak negatif maupun dampak positif. Diantara dampak yang ditinggalkan : 1) Di bidang politik, Amerika Serikat menjadikan negara berkembang sebagai negara demokrasi, agar tercipta persamaan hak antarwarga. Selain nilai demokrasi, Amerika juga menyisipkan paham kapitalis didalamnya. Serupa, Uni Soviet juga merencanakan pembangunan lima tahun untuk negara lain. Bukan dengan cara liberal, tapi diktator. Negara yang menjadi korban Uni Soviet tersebut dinamakan satelit Uni Soviet; 2) Bidang ekonomi, Amerika Serikat sebagai negara kreditur terbesar di dunia memberikan pinjaman kepada negara-negara yang sedang berkembang, seperti Negara Barat yang hancur perekonomiannya pascaperang, dibantu melalui Marshall Plan; 3) Bidang militer, pada 1949 negara Barat membentuk NATO untuk membendung komunis mulai dari Eropa Utara sampai Turki dan Yunani. Pada 1954 di Asia Tenggara dibentuk SEATO, pakta ini ditujukan kepada para komunis di Asia Tenggara. Pada tahun 1955 Uni Soviet dengan negara Blok Timurnya membentuk Pakta Warsawa, sebagai tandingan dari terbentuknya NATO.
            Dalam Perang Dingin, diantara Blok Barat dan Blok Timur ada beberapa negara yang memilih untuk tidak memihak kedua blok, dengan bersikap netral. Walaupun ada juga negara yang tetap memilih sebagai pengikut Blok Barat maupun Blok Timur. Negara yang memilih untuk netral tersebut menamai diri mereka dengan Gerakan Non-Blok (GNB). Ide awal dari pembentukan GNB ini ketika Konferensi Asia Afrika yang diadakan di Bandung pada tahun 1955. GNB sendiri lahir pada tangal 1 September 1961. Indonesia mempunyai peran yang dominan disini. Presiden Soekarno, menjadi salah satu pendiri dari GNB ini. Selain sebagai salah satu negara pemrakarsa, Indonesia juga turut memecahkan masalah-masalah dunia, memperjuangkan HAM, dan tata ekonomi dunia yang berdasarkan pada asas keadilan. Tidak hanya itu, peran serta Indonesia dalam GNB selanjutnya ialah sebagai salah satu negara pengundang pada KTT I GNB di Beograd, Yugoslavia dan juga Indonesia pernah menjadi ketua GNB dari tahun 1992-1995 dan Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah KTT GNB X di Jakarta pada bulan September 1992. Peserta yang menghadiri KTT GNB pada saat itu berjumlah 106 negara. Dalam Perang Dingin, GNB muncul sebagai pihak yang netral dan berusaha meredam persaingan kedua blok tersebut dengan tidak memihak salah satu blok untuk menghindari terjadinya perpecahan yang ditakutkan akan melahirkan Perang Dunia III.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar